DIALOG BERSAMA DELEGASI BNPT RI, PPI SUDAN SAMPAIKAN MINIMNYA PERHATIAN PEMERINTAH PUSAT KEPADA PARA PELAJAR ILMU AGAMA

Khartoum (11/03/2019) - Diawali dengan santap malam bersama Duta Besar RI, DP PPI Sudan berkesempatan untuk berdialog dengan delegasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI yang dipimpin oleh Kolonel Fanfan Infansyah, Deputi Direktur Kerjasama Asia Pasifik dan Afrika pada hari Senin, 11 Maret 2019. Dengan difasilitasi oleh KBRI Khartoum, DP PPI Sudan melaksanakan audiensi yang bertempat di Restoran Nusantara. Dihadiri oleh seluruh jajaran Pengurus Harian PPI Sudan, Duta Besar RI, Home Staff dan Local Staff KBRI Khartoum serta Delegasi BNPT RI, diskusi berjalan hangat dan santai.

Pada kesempatan tersebut, Ketua delegasi BNPT RI, Kol. Fanfan berkesempatan untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan BNPT RI ke Sudan serta beberapa nasihat bagi para pelajar di Sudan agar senantiasa berhati-hati dan lebih mawas diri dalam menuntut ilmu. Bahwa kewajiban utama para pelajar di Sudan adalah untuk menuntut ilmu dan BNPT berharap agar para pelajar senantiasa bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu sehingga kelak ketika kembali ke Tanah Air mampu menjadi pencerah di tengah kegelapan dan mampu mempraktikkan ilmunya dengan sebaik-baiknya.

“Radikalisme dan paham terorisme itu bisa datang lewat mana saja. Tidak memandang pintar atau tidak, kaya atau tidak. Banyak guru-guru besar dan para pengusaha terpapar radikalisme karena ketidak fahaman pada ilmu-ilmu Islam. Maka dari itu, pelajarilah ilmu-ilmu Islam secara mendalam dan baik sehingga kelak apa yang adik-adik pelajari akan bermanfaat bagi masyarakat sekitar maupun bangsa.” Ujar Kol. Fanfan.


Ketua PPI Sudan sekaligus Koor. PPID Kawasan Timur Tengah dan Afrika, Sdr. Muhammad Ruhiyat Haririe pun kemudian berkesempatan untuk menanggapi dan memberikan gambaran terkait para pelajar di Sudan khususnya dan Timur Tengah pada Umumnya. Beliau menyampaikan di tengah tingginya minat para pelajar untuk melanjutkan studi di Timur Tengah dan Afrika, ada bayang-bayang persepsi di tengah masyarakat bahwa radikalisme dan terorisme datang dari negara-negara Timur Tengah. Hal ini dipandang keliru karena tujuan para pelajar datang ke negara-negara di Timur Tengah dan Afrika adalah murni untuk mendalami ilmu-ilmu agama. Dengan kondisi yang serba terbatas, terkadang kemudian ada beberapa oknum yang ‘kesasar’ dan tanpa disadari karena ketidak tahuannya, mereka menempuh jalan itu karena minimnya perhatian pemerintah kepada para pelajar di Timur Tengah dan Afrika.

“Kami, baik di PPI Sudan maupun PPI Kawasan terus berupaya pro aktif membantu pemerintah dalam menangkal radikalisme ini, dan ini pun menjadi konsentrasi kami pada tahun ini. Namun, para pelajar di Timur Tengah dan Afrika terkadang suka bingung Pak. Pemerintah memandang bahwa Timur Tengah dan Afrika menjadi sumber datangnya radikalisme dan terorisme, namun justru perhatian pemerintah sangat minim sekali kepada kami di sini. Salahsatunya adalah dalam hal beasiswa yang dapat menopang ekonomi teman-teman pelajar di Timur Tengah dan Afrika, khususnya Sudan. Kita tahu bahwa pintu masuk terbesar radikalisme adalah karena ekonomi yang lemah. Mereka awalnya curhat mengenai masalah mereka, lalu karena kebaikan guru mereka, para guru senantiasa membantu mereka, sehingga ada hubungan ‘ayah dan anak’ yang terbangun. Alhasil, namanya anak pasti akan ikut kepada ayahnya.” Ujar Sdr. Haririe.

Selain itu Ketua PPI Sudan pun menyampaikan bahwa salahsatu cara untuk menangkal radikalisme dan terorisme secara efektif adalah dengan cara melibatkan para alumni Timur Tengah dan Afrika di pemerintahan, khususnya BNPT itu sendiri. Beliau berharap kedepannya pemerintah dapat membuka lebih luas kesempatan bagi para alumni Timur Tengah dan Afrika untuk dapat berkecimpung, berkontribusi dalam pemerintahan sehingga dapat membantu pemerintah dengan langkah-langkah konkret dalam menangkal isu radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Wakil Ketua PPI Sudan, Sdr. Faisal Ridhwan Syawie turut menambahkan bahwa pemerintah pun harus berupaya untuk meminimalisir stigma negatif mengenai para pelajar studi Islam di Timur Tengah dan Afrika yang dapat memicu kegaduhan dan kekhawatiran berlebih ditengah masyarakat.

“Selama ini banyak stigma yang berkembang di tengah masyarakat bahwa mereka yang bercelana cingkrang, berjenggot panjang, berjidat hitam adalah teroris. Kami memandang perlu kiranya pemerintah melalui BNPT dan lembaga terkait untuk membantu meredakan ini. Karena radikalisme dan terorisme adalah masalah paham, bukan penampilan. Dan konstitusi menjamin kebebasan berpikir dan berpaham selama tidak merugikan masyarakat luas dan tidak bertentangan dengan ideologi negara.” Pungkas Sdr. Syawie.

Deputi Direktur Kerjasama Eropa Amerika, Bapak Tholhah Ubaidillah pun kemudian menjawab keresahan yang disampaikan sdr. Syawie. Bahwa selama ini pemerintah terus berupaya untuk menghilangkan stigma itu dan terus melibatkan para alumni Timteng Afrika untuk berperan dalam ‘counter terrorism and radicalism’ di Indonesia. Dan tentunya beliau berharap dengan peningkatan peran ini, serta kerjasama dengan berbagai stakeholders dapat menuntaskan permasalahan-permasalahan yang muncul di tengah masyarakat khususnya terkait radikalisme dan terrorisme.

Di akhir dialog, Kol. Fanfan pun kemudian menyampaikan rasa bangga dan terima kasih kepada PPI Sudan atas berbagai masukan dan informasi yang disampaikan dan BNPT akan mencoba berkomunikasi dengan kementerian-kementerian terkait mengenai rekomendasi dan tindak lanjut atas usulan maupun keresahan yang disampaikan dalam dialog tersebut dengan harapan akan adanya keseimbangan peran antara alumni dari Timteng Afrika maupun dari kawasan lainnya bagi pembangunan dan kemajuan bangsa. Acara pun ditutup dengan penyerahan bantuan untuk kegiatan PPI Sudan yang disaksikan langsung oleh Duta Besar RI serta foto bersama.


Tidak ada komentar